TRADISI SEDEKAH BUMI DESA BUMIMULYO DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Bumimulyo, 4 Juli 2020

Bersih desa telah menjadi sebuah tradisi wajib turun temurun di setiap daerah terutama wilayah jawa. Desa Bumimulyo, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, masih melestarikan tradisi bersih desa sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Bersih desa biasa digelar dengan berbagai ritual selamatan dan upacara adat untuk mempersembahkan sesaji kepada leluhur desa. Persembahan sesaji diberikan sebagai wujud rasa syukur atas berkah yang diberikan Sang Pencipta sekaligus untuk menjauhkan desa dari malapetaka.

Kepala desa (Kades) Bumimulyo, Sutiyono mengatakan, kegiatan sedekah bumi tahun ini tetap digelar namun hanya sederhana. Kegiatan syukuran dipusatkan di punden desa dengan hanya melibatkan warga sekitar.

“Tetap kita gelar mas. Namun sederhana. Warga juga dibatasi hanya yang sekitar punden yang gelar syukuran,” ungkap Sutiyono.

Sutiyono menerangkan, untuk hiburan sementara ditiadakan karena dikhawatirkan akan mendatangkan kerumunan warga.
“Untuk hiburannya kita tiadakan mas. Jadi hanya kita gelar syukuran saja di punden,” jelasnya.

Tradisi bersih desa di Bumimulyo rutin diadakan satu tahun sekali. Pemerintah Desa (Pemdes) Bumimulyo menggelar acara sederhana, yaitu sekedar tasyakuran bancakan di punden.

Bupati Pati Haryanto menyadari urgensi pelaksanaan sedekah bumi bagi masyarakat.

Menurutnya, meski di tengah pandemi virus corona seperti saat ini, pelaksanaan sedekah bumi tidak bisa dihindari.

Namun demikian, demi mencegah penularan Covid-19, pada 29 Juni 2020 lalu pihaknya telah mengeluarkan surat edaran khusus terkait pembatasan kegiatan sedekah bumi/bersih desa.

“Karena merupakan tradisi yang tidak boleh ditinggalkan, sedekah bumi tetap diperbolehkan, dengan catatan durasi maksimal hanya satu jam,” ungkap Haryanto ketika diwawancarai Tribunjateng.com di Gedung DPRD Pati, Kamis (2/7/2020)

Ia menjelaskan, surat edaran tersebut juga menyebutkan bahwa kegiatan sedekah bumi sebisa mungkin dilaksanakan secara sederhana.

Jika dimungkinkan, cukup dengan tasyakuran atau bancakan.

 

Agus Setiawan

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan